Jumat, 02 Desember 2011

AISHITERU
Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
Saat ku harus bersabar dan trus bersabar
Menantikan kehadiran dirimu
Entah sampai kapan aku harus menunggu
Sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani
Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu
Kadang kuberpikir cari penggantimu
Saat kau jauh disana
[*]
Walau raga kita terpisah jauh
Namun hati kita selalu dekat
Bila kau rindu pejamkan matamu
Dan rasakan a a a aku
[**]
Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
Terhapus ruang dan waktu
Percayakan kesetiaan ini
Pada ketulusan a a ai aishiteru
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu kucuriga
Entah penantianku takkan sia-sia
Dan berikan satu jawaban pasti
Entah sampai kapan aku harus bertahan
Saat kau jauh disana rasa cemburu
Merasuk kedalam pikiranku melayang
Tak tentu arah tentang dirimu
Apakah sama yang kau rasakan
Back to [*][**]
Satu sendiri pikiran melayang terbang
Perasaan resah gelisah
Jalani kenyataan hidup tanpa gairah
Owu..wo..o..
Lupakan segala obsesi dan ambisimu
Akhiri semuanya cukup sampai disini
Dan buktikan pengorbanan cintamu untukku
Kumohon kau kembali
Kimita tuokukitemo
Kiminoi shuaguaratala
Shiniteruyo shiniteruyo
Back to [*][**]
Wo wo wo..
Wo wo wo..a a ai aishiteru

Selasa, 24 November 2009

puisi

Sajak-Sajak Susanti SS

MUARA PRAHARA

Jika waktu bisa bicara pasti ia akan menyesali keberadaannya

Karena memberi jeda pada setiap kata untuk diberi makna

Jika langit bisa tertawa pasti ia menyangka kita bercanda

Ketika kita jadikan kesempurnaan kata-kata untuk menyapa

Lalu kita jadikan senjata untuk menekan dan marah

Jika perlu darah pun boleh bersimbah

Tak pernah sama manusia memandang makna

Setiap makna berdasar rasa penikmat

Setiap makna digunakan berdasar selera

Siapa yang tahu selera kita sama atau berbeda

Lalu setiap orang berpikir egosentris

Berubah jadi chauvinis

Hingga menjadi separatis di komunitas sendiri

Hanya karena merasa paling benar

Maka orang lain jadi salah

Siapa yang paling tahu yang benar?

Bahkan Tuhan tak memberi tahu pasti

Bahkan penafsir firman Tuhan yang keliru pun beroleh pahala

Setiap orang boleh jadi fanatik

Tapi tak lantas jadi teroris

Karena darah tertumpah ada harga dan caranya

Peperangan dan konflik bukan kesalahan

Tapi cara memandang hati nurani

Karena orang salah boleh dibunuh…

Tapi lebih utama memaafkan…

Maka tak penting lagi arti sebuah tangis

Handil Bakti, 10 Agustus 2009

Kutunggu SAMPAI waktuKU

Rindu merintih perlahan menempati sunyi

Angin tak mampu menyapu penat menari

Di ujung-ujung energi yang tersisa

Dari hati yang kelelahan

Waktu membuang jauh separuh hidupku

Menelanku pada kekerdilan hatiku

Hingga aku tak tahu harus menangis atau tertawa

Merasai nasibku sendiri

Kesetiaan bagai pedang yang terhunus di depanku

Menantangku pada peperangan batin

Membangun kerusuhan hati

Karena waktu tercipta dalam kehampaan

Membuat hati sungguh tak berdaya

Dua windu menanti kabarmu

Bagai menelan duri-duri di kala lapar dan dahaga

Namun janji adalah janji

Yang harus dipenuhi setiap hati

Walau sunyi sungguh menjepit

Kutunggu kau sampai waktuku

Sampai semua hati sungguh berarti

Atau hanya sebatas mimpi

Barito Kuala, 20 Agustus 2009

RAJA JALANAN

Meniti hamparan kerikil sepanjang jalan

Dengan peluh mengucur di sekujur tubuh

Lelah tak dirasa meski telah meraja

Bahkan terik yang menampar kulit

Serasa karib yang selalu mengiringi

Kaki mengayuh nasib pertanda rejeki datang

Di antara iring-iringan borjuis yang sinis

Dan preman-preman yang siap menerkam

Meniti dengan kerja payah demi kejujuran

Karena tak ada jalan lain

Atau karena tak bias berpikir lain

Tak ada yang bisa menghentikan langkahnya kecuali lampu merah

Tak ada yang berani mendahuluinya saat jalan padat

Bukan karena tak bisa laju

Bukan karena yang lain simpati

Bukan…

Namun…

Karena jika mobil mereka tergores dia tak bias member ganti rugi

Karena jika dia celaka mereka yang harus mengganti ongkos berobat

Dialah pejuang hidup yang berjalan di atas jalan yang panas

Mengayuh hidup di tengah polusi udara dan kebisingan kota

Menantang bahaya dan segala yang menghampiri

Dia para tukang becak…

dan para tukang gerobak air…

di kota Banjarmasin

Banjarmasin, 27 Oktober 2009

SEPASANG MATA SENDU

Lelah tak jua beranjak dari nadinya

Sekujur tubuhnya bergetar oleh derita

Ia tak lagi mampu berkata-kata

Bahkan untuk menyebut namanya sendiri

Cintanya telah terhempas di jalanan

Meski ia tak pernah rela

Hatinya pedih karena tak berdaya

Sendiri…

Sunyi menengadah memanggil kalbunya

Membuatnya terbuai dalam angan

Membuat tangisnya meledak tanpa setetes pun air mata

Lantaran kekasihnya yang memberi caci maki

Lantaran kekasihnya yang membuatnya terhina

Kalbu gersang seorang perempuan lemah

Yang memiliki sepasang mata sendu

Lantaran ia tak sanggup buat kekasihnya cinta

Atau karena ia tak sanggup mencinta?

Handil Bakti, 28 Oktober 2009

Selendang Ibu

Mahkota yang indah di seluruh dunia

Yang menaungi selaksa asa dan harap

Tak terkecuali

Ia beriak di antara keringat dan peluh kasih

Ia menyembul di antara senyum ikhlas dan tulus

Ia teraba dalam tangis dan doa malam

Ia tercipta dalam terangnya cinta

Harapan cintanya sepanjang ujung umurnya

Ampunannya seluas lautan di benua

Doa-doanya menjulang ke langit tanpa tirai penghalang

Tak ingin mengutuk meski terkutuk

Cinta adalah darah

Adalah juga kekuatan

Mahkota indah yang menaungi asa sedunia

Untaian selendang sehalus sutra

Doa seorang ibu….

Handil Bakti, 7 July 2009